Senja Living,toko perabot dari perajin kecil.
Perabot rumah buatan tangan dari Jawa dan Bali. Barang seperti ini susah dijual lewat foto saja. Kami bangun tokonya dengan cerita perajin di jalur belanja, bukan di halaman terpisah yang tidak pernah dibuka.
Proyek konsep. Senja Living brand karangan kami. Tokonya dibangun betulan, sampai checkoutnya bisa dilewati sampai selesai.
Ceritanya
Senja Living menjual perabot rumah dari bengkel kecil di Jawa dan Bali. Tembikar bakar rendah dari Kasongan, anyaman dari Cirebon, mangkuk dari kayu sisa furnitur. Harganya di atas barang pabrik. Jadi orang butuh alasan untuk membayar selisihnya.
Alasan itu ada di ceritanya. Siapa yang membuat, dari bahan apa, dan bagaimana cara merawatnya supaya awet. Sayangnya toko online kebanyakan justru membuang bagian itu. Foto latar putih, judul, tombol beli, selesai.
Kami mau lihat apa yang terjadi kalau ceritanya ditaruh di tempat orang belanja. Bukan di halaman “Tentang Kami” yang cuma dibuka satu dari seratus orang.
Batasan yang kami pilih
Batasan kami kunci di awal, sebelum buka Figma. Tujuannya biar tidak tergoda menambah fitur di tengah jalan.
- Dua belas produk di katalog utama. Bukan ratusan.
- Tidak ada slider di beranda, tidak ada popup diskon, tidak ada hitung mundur palsu.
- Setiap produk wajib punya satu paragraf soal perajinnya dan satu panduan merawat.
- Checkout maksimal tiga langkah, dan tidak wajib bikin akun dulu.
- Semua foto produk dipotong dengan rasio yang sama persis.
Batasan terakhir kelihatan sepele. Tapi itu yang bikin katalognya terasa tenang waktu digulir cepat di HP.
Keputusan desain
Warna dasarnya Bone, #F2EDE4, putih hangat yang sedikit kekuningan. Putih murni bikin tembikar dan kayu terlihat kusam, hampir seperti kotor. Bone bikin warna asli barangnya duduk dengan benar.
Aksen utamanya Clay, #B5674A, diambil dari warna tanah yang dibakar rendah. Warna ini cuma dipakai untuk hal yang bisa diklik: tombol, tautan, dan label stok tipis. Sage, #8A9A82, jadi aksen kedua untuk tag kategori. Garis pemisahnya #DCD3C4, sengaja tipis biar halaman tidak terpotong jadi kotak-kotak.
Judul memakai Cormorant Garamond. Serif dengan beda tebal dan tipis yang tajam, terasa seperti cetakan lama. Isi teks memakai Karla, grotesk dengan huruf a dan g yang agak nyeleneh. Dua-duanya sengaja tidak netral. Barang buatan tangan terasa aneh kalau ditulis dengan huruf yang terasa pabrik.
Ukuran huruf isi kami naikkan sedikit di atas ukuran umum toko online. Orang perlu benar-benar membaca cerita perajinnya, bukan melompatinya.
Yang dibangun
WordPress dengan WooCommerce, halaman disusun di Elementor. Isinya:
- Katalog dua belas produk, dengan varian ukuran untuk tembikar dan lilin.
- Tipe konten sendiri untuk profil perajin, ditautkan otomatis ke tiap produk yang dia buat.
- Halaman panduan merawat per bahan: keramik, kayu, dan anyaman.
- Checkout tiga langkah, ongkir dihitung per wilayah, plus aturan ongkir gratis di atas batas belanja tertentu.
- Formulir langganan surat bulanan yang masuk langsung ke daftar email.
- Data terstruktur produk, biar stok dan ketersediaan terbaca Google dengan benar.
Semua bagian bisa diubah pemiliknya sendiri lewat dashboard WordPress. Tidak ada blok yang cuma bisa kami sentuh.
Yang akan kami ukur kalau ini proyek nyata
Bagian ini rencana, bukan hasil. Senja Living tidak punya pembeli sungguhan, jadi tidak ada angka yang bisa kami tunjukkan. Kalau brand ini nyata, tiga bulan pertama kami pantau enam hal berikut.
- Berapa persen yang membuka halaman produk lalu menaruh barang ke keranjang.
- Di langkah checkout mana orang berhenti, dan berapa yang balik lagi.
- Waktu muat halaman produk di HP dengan sinyal 4G biasa, bukan wifi kantor.
- Kata kunci mana yang membawa orang ke panduan merawat, bukan ke katalog.
- Berapa yang berlangganan surat bulanan tanpa dipancing diskon.
- Berapa yang beli kedua kalinya dalam enam bulan.
Enam angka itu yang kami taruh di laporan bulanan. Jumlah kunjungan mentah tidak masuk, karena angka itu naik turun tanpa bisa kamu tindaklanjuti.
Katalog turun jadi satu kolom.
Foto produk dibiarkan besar dan lebar penuh, karena itu yang bikin orang berhenti menggulir. Grid tiga kolom di desktop jadi satu kolom di HP, bukan dua. Dua kolom bikin fotonya terlalu kecil untuk melihat tekstur anyaman.
Cerita perajin dipendekkan jadi tiga baris dengan tautan baca selengkapnya, jadi tombol belinya tidak terdorong jauh ke bawah. Menu dilipat jadi satu tombol, tapi keranjang tetap terlihat di pojok kanan atas. Di halaman produk, tombol beli menempel di bawah layar selama kamu menggulir.
Pulau Atlas, operator tur kepulauan
Punya barangyang layak dijual online?
Ngobrol 30 menit dulu, gratis. Kami tanya soal produk, pembeli, dan cara kamu mengirim barang. Setelah itu penawaran dengan angka pasti kami kirim dalam dua hari kerja.

