Konsultasi gratis
Beranda/Karya/Pulau Atlas
Company profile · Tur dan perjalanan

Pulau Atlas,sembilan rute di timur Indonesia.

Operator tur kepulauan dengan grup kecil, maksimal dua belas orang, dipandu warga pulau setempat. Website tur biasanya menjual suasana. Yang ini kami susun untuk menjawab pertanyaan yang benar-benar ditanya sebelum orang berangkat.

Proyek konsep. Pulau Atlas brand karangan kami. Websitenya dibangun betulan, sampai rutenya bisa ditambah sendiri lewat dashboard.

Klien
Proyek konsep
Lingkup
Desain, company profile, tipe konten rute, formulir penawaran
Tahun
2026
Dibangun dengan
WordPress, Elementor, CPT UI, ACF, Fluent Forms, Rank Math
Beranda Pulau Atlas di layar desktop
Beranda Pulau Atlas di layar 1440 piksel. Rute, cara menyusun rute, tiga langkah sebelum berangkat, lalu formulir penawaran.

Ceritanya

Pulau Atlas menjual perjalanan ke Nusa Tenggara, Maluku, dan Raja Ampat. Grup kecil, kapal phinisi atau rumah warga, dan pemandu yang memang tinggal di pulaunya. Harganya jauh di atas tur massal. Jadi orang menimbang lama sebelum memutuskan.

Website operator tur biasanya sibuk menjual suasana. Foto matahari terbenam, kata “surga tersembunyi”, tombol pesan sekarang. Padahal yang ditanya calon peserta itu hal teknis. Berapa hari, tidur di mana, kapal jenis apa, siapa pemandunya, dan bulan apa lautnya tidak bersahabat.

Kami balik urutannya. Foto tetap besar, karena memang jualannya. Tapi jawaban teknis kami naikkan ke atas, sebelum orang harus mengisi formulir apa pun.

Batasan yang kami pilih

Sama seperti proyek lain, batasan kami kunci sebelum mulai desain.

  • Sembilan rute saja. Katalog panjang bikin orang tidak memilih apa pun.
  • Setiap rute wajib menyebut jumlah hari, tempat tidur, dan bulan yang tidak disarankan.
  • Tidak ada tombol pesan langsung. Kursi terbatas, dan ada obrolan singkat sebelum kursi dikunci.
  • Satu formulir penawaran untuk seluruh situs, bukan lima tombol yang membuang orang ke tempat berbeda.
  • Tidak pakai foto stok. Kalau fotonya belum ada, ruangnya dibiarkan kosong dulu.

Batasan ketiga yang paling berat. Tombol pesan langsung terlihat modern. Tapi untuk perjalanan sembilan hari ke Alor, orang justru ingin bicara dulu.

Keputusan desain

Warna dasarnya Cream, #F5F0E1, sedikit lebih kuning dari kertas biasa. Warna gelapnya Deep Teal, #124F4A, dipakai untuk navigasi dan blok jadwal. Teal ini diambil dari warna air dalam, bukan biru cerah yang dipakai semua situs wisata. Aksennya Ochre, #C88A2E, cuma untuk hal yang mendesak: sisa kuota dan tombol utama. Garisnya #D9D2BE.

Hierarki hurufnya sengaja dibalik. Judul memakai Bricolage Grotesque, sans dengan sumbu optical size, jadi judul besar tetap rapat dan judul kecil tetap terbaca. Isi teks memakai Source Serif 4, serif layar yang nyaman untuk paragraf panjang.

Kebanyakan situs melakukan kebalikannya: judul serif, isi sans. Kami balik karena efeknya beda. Judul sans terasa seperti papan penunjuk arah, tegas dan cepat dibaca. Isi serif terasa seperti catatan perjalanan, bukan brosur agen. Itu persis nada yang dicari brand ini.

Tata letaknya asimetris, gaya majalah. Blok teks dan foto tidak pernah rata sempurna, jadi mata bergerak turun terus. Untuk halaman yang isinya sembilan rute berurutan, itu menahan orang lebih lama daripada grid rapi.

Yang dibangun

WordPress dengan tipe konten sendiri, halaman disusun di Elementor.

  • Tipe konten Rute, dengan field terpisah untuk jumlah hari, jenis kapal, tempat tidur, dan bulan berangkat.
  • Field sisa kursi yang diisi manual oleh admin, tampil di kartu rute dan di halaman jadwal.
  • Halaman jadwal yang menarik data langsung dari rute, jadi admin tidak perlu mengurus dua tempat.
  • Formulir penawaran dengan pilihan rute, bulan, dan jumlah orang, terkirim ke email plus tercatat di dashboard.
  • Alur tiga langkah sebelum berangkat, ditulis apa adanya termasuk aturan batal.
  • Data terstruktur dan judul halaman rute yang menyebut nama pulau, bukan nama paket.

Rute baru bisa ditambah pemiliknya tanpa menyentuh Elementor. Isi field, terbit, dan kartu rutenya muncul sendiri di beranda dan di halaman jadwal.

Yang akan kami ukur kalau ini proyek nyata

Bagian ini rencana, bukan hasil. Pulau Atlas tidak punya peserta sungguhan, jadi tidak ada angka yang bisa kami klaim. Kalau brand ini nyata, ini yang kami pantau dari bulan pertama.

  • Berapa persen yang membuka halaman rute lalu mengisi formulir penawaran.
  • Di field mana formulir paling sering ditinggalkan setengah jalan.
  • Rute mana yang paling banyak dibuka tapi paling sedikit ditanya. Itu tanda ada yang keliru di halamannya.
  • Berapa lama orang bertahan di halaman rute, dibanding perkiraan waktu membaca isinya.
  • Waktu muat halaman rute di HP, karena halaman ini berat foto.
  • Kata kunci nama pulau yang masuk, dibanding kata kunci umum seperti paket tur.

Yang paling berguna itu angka ketiga. Rute yang ramai dilihat tapi sepi ditanya biasanya salah di harga, jadwal, atau penjelasan yang kurang. Itu bisa dibenahi dalam satu minggu.

Beranda Pulau Atlas di layar HP
Bagian atas beranda di layar 390 piksel.
Di layar kecil

Asimetrinya dilepas, datanya tetap.

Tata letak majalah tidak jalan di lebar 390 piksel. Jadi di HP semuanya turun jadi satu kolom lurus. Yang dipertahankan bukan bentuknya, tapi urutannya: foto, nama rute, jumlah hari, tempat tidur, baru harganya.

Baris data rute yang di desktop berjajar menyamping jadi dua kolom kecil di HP. Jadi tetap bisa dibandingkan sekali lihat, tanpa perlu digulir ke samping. Sisa kuota tetap tampil warna ochre. Menu jadi satu tombol, dan tautan minta penawaran dipindah ke bawah layar supaya selalu terjangkau ibu jari.

Proyek berikutnya

Tirta Studio, jadwal kelas dan booking

Lihat Tirta Studio
Mulai dari sini

Jualan kamubutuh dijelaskan dulu?

Ngobrol 30 menit dulu, gratis. Kami tanya siapa yang beli, apa yang mereka ragukan, dan di titik mana mereka batal. Setelah itu penawaran dengan angka pasti kami kirim dalam dua hari kerja.